Masakan Jepang mendapat penilaian yang sangat tinggi karena penyajiannya yang berwarna-warni, menggunakan bahan-bahan segar dengan nutrisi yang seimbang dan menyehatkan. Selain itu, Jepang juga aktif mengadopsi budaya kuliner dari berbagai negara, termasuk masakan Tiongkok, Barat, dan berbagai negara lainnya, sehingga masyarakat dapat menikmati beragam hidangan dari seluruh dunia. Menariknya, ada banyak makanan yang awalnya terinspirasi dari luar Jepang, tetapi telah diadaptasi dan dikembangkan menjadi hidangan khas Jepang. Beberapa di antaranya bahkan sering dianggap berasal dari luar Jepang, padahal sebenarnya berasal dari Jepang.
Artikel ini akan membahas sejarah dan keunikan Napolitan, Tenshinhon, serta hidangan klasik lainnya yang sangat populer di Jepang, lengkap dengan foto-fotonya.
Jan 30. 2026
Makanan yang Ternyata Berasal dari Jepang: Omurice, Tenshinhan, Napolitan, dll, Lengkap Dengan Foto-Fotomya!

10 Makanan yang Sebenarnya Berasal dari Jepang
Napolitan
Napolitan sering dikira berasal dari Napoli, Italia, karena namanya. Namun, sebenarnya ini adalah hidangan asli Jepang. Konon pada awal periode Showa, Shigetada Irie, koki eksekutif kedua di Hotel New Grand di Yokohama, menciptakan hidangan yang menggabungkan saus tomat dan spageti, yang kemudian dikenal dengan sebutan Napolitan.
Versi napolitan modern menggunakan saus berbasis saos tomat, sementara versi aslinya menggunakan tomat segar dan tomat kalengan. Asal-usul namanya diduga berasal dari istilah "gaya Napoli" yang digunakan untuk menyebut saus tomat saat itu, tetapi ada juga teori bahwa "Napoli" dipilih karena kesannya yang eksotis.
Napolitan umumnya dibuat dengan menumis saus tomat yang berbahan dasar saus tomat manis, paprika, bawang bombay, serta bahan-bahan seperti sosis atau bacon. Rasanya yang manis, gurih, dan sedikit nostalgik membuatnya menjadi hidangan favorit di rumah maupun kafe-kafe di Jepang.
Doria
Sama seperti napolitan, doria juga dikatakan berasal dari Hotel New Grand, Yokohama. Hidangan ini diciptakan oleh Saly Weil, kepala koki pertama hotel tersebut, untuk tamu yang sedang kurang sehat. Doria adalah hidangan yang dibuat dengan menuangkan saus putih (béchamel) dan keju yang melimpah di atas nasi mentega atau nasi ayam, lalu dipanggang dalam oven. Kombinasi saus putih yang creamy dan keju yang renyah memberikan rasa lezat yang cocok dengan selera orang Jepang, dan menjadikannya hidangan rumahan yang populer.
Meskipun mirip dengan hidangan gratin, perbedaan utamanya terletak pada penggunaan nasi sebagai bahan dasar, bukan pasta. Doria dapat dikombinasikan dengan berbagai bahan seperti udang, ayam, saus daging, atau kari, menjadikannya hidangan yang sangat fleksibel dan populer, terutama di kalangan anak-anak.
Omurice
Omurice, hidangan klasik ala Barat yang setiap orang Jepang pasti pernah mencicipinya, juga berasal dari Jepang. Nama "Omurice" berasal dari gabungan kata dalam bahasa Prancis "omelette" (omelet) dan bahasa Inggris "rice" (nasi), sehingga sering dikira berasal dari Prancis, namun sebenarnya omurice adalah makanan asli Jepang. Hidangan ini terdiri dari nasi goreng dengan ayam dan bawang bombay yang ditumis bersama saus tomat, lalu dibungkus dengan telur dadar lembut.
Omurice dapat disajikan dengan berbagai variasi, seperti menghiasnya dengan saus tomat atau menambahkan saus demi-glace untuk rasa yang lebih kaya. Anak-anak sering menikmati saat menggambar sesuatu di atas omurice menggunakan saus tomat, dan ini adalah hidangan nasional yang disukai semua orang, dari anak-anak hingga orang dewasa.
Cream Stew
Ini adalah hidangan Jepang yang berasal dari periode Meiji, ketika masakan Barat diperkenalkan ke Jepang, dan diciptakan dengan mengadaptasi stew ala Barat agar sesuai dengan bahan dan cita rasa Jepang. Cream stew adalah hasil inovasi ini dan kini menjadi hidangan khas Jepang. Cream stew merupakan menu populer dalam makan siang sekolah di Jepang. Selain itu, selama musim dingin, banyak keluarga Jepang yang menikmati hidangan ini, dan iklan televisi sering menampilkan momen keluarga yang berkumpul sambil menyantap cream stew. Hidangan ini dibuat dengan cara merebus wortel, bawang bombay, kentang, serta daging atau makanan laut dalam saus krim berbahan dasar tepung, terkadang ditambahkan susu atau susu kedelai sebagai sentuhan akhir. Rasanya yang ringan dan lembut membuatnya digemari oleh berbagai kalangan usia. Pengembangan campuran bumbu sup krim sangat berkontribusi pada popularitasnya di rumah tangga pada umumnya.
Setiap rumah tangga memiliki resep uniknya sendiri, sehingga cream stew sering kali memiliki rasa khas di setiap keluarga. Selain disantap dengan roti, banyak orang Jepang juga menyantapnya bersama nasi, bahkan menuangkannya langsung di atas nasi sebagai variasi cara makan.
German Potato
Dari namanya, banyak yang mengira German potato berasal dari Jerman. Namun, tidak ada hidangan bernama "German potato" di Jerman. Meskipun sering dikira sebagai makanan Jerman, hidangan ini sebenarnya berasal dari Jepang.
German potato dibuat dengan cara menumis kentang bersama bacon, lalu dibumbui dengan garam, kaldu konsome, mentega, dan peterseli. Nama "German potato" kemungkinan diberikan karena kentang adalah bahan makanan umum di Jerman. Dan pada saat itu, banyak orang Jepang yang mengagumi budaya Jerman. Beberapa variasi German potato termasuk menambahkan mayones atau saus tomat, dan sangat cocok dipadukan dengan bir.
Korokke
Korokke (semacam kroket) adalah salah satu makanan favorit masyarakat Jepang. Hidangan ini berasal dari "Croquette" Prancis, yang diperkenalkan ke Jepang sekitar tahun 1872. Pada awalnya, korokke berbasis saus béchamel, yang kini dikenal sebagai cream korokke. Namun, karena saat itu teknologi pengolahan produk susu belum berkembang di Jepang dan dianggap sebagai bahan makanan mewah, Korokke berbahan dasar kentang ditemukan sebagai alternatif yang lebih ekonomis. Korokke juga dapat dianggap sebagai hidangan yang berevolusi secara unik di Jepang.
Kini, korokke berbahan dasar kentang adalah yang paling umum, tetapi ada juga variasi lain seperti korokke labu, cream korokke, dan menchi katsu (daging cincang dan bawang bombay yang digoreng). Korokke dapat ditemukan di supermarket, toko khusus korokke, hingga kedai makanan siap saji, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang.
Ebi Furai
Ebi furai adalah salah satu hidangan Yoshoku (masakan Barat ala Jepang) yang sangat populer dan sering ditemukan dalam menu anak-anak di restoran keluarga. Namun, meskipun terdengar seperti masakan Barat, ebi furai sebenarnya berasal dari Jepang. Hidangan ini dibuat dengan melapisi udang dengan adonan, lalu menggorengnya hingga renyah. Perpaduan antara tekstur renyah dari lapisan luar dan tekstur udang yang empuk di dalamnya menjadi daya tarik utama hidangan ini. Salah satu teori menyebutkan bahwa ebi furai pertama kali dibuat di restoran Yoshoku "Rengatei" di Ginza, Tokyo, sekitar tahun 1900. Pada saat itu, ebi furai dianggap sebagai makanan mewah.
Pembuatan ebi furai biasanya melibatkan banyak langkah seperti membersihkan udang, melapisinya dengan tepung terigu, telur, dan remah roti, lalu menggorengnya dalam minyak. Proses ini sering memberikan kesan bahwa ebi furai sulit disiapkan dengan mudah di rumah. Namun, sejak tahun 1960-an, produk ebi furai beku mulai dijual, sehingga memudahkan masyarakat untuk menikmatinya sebagai lauk sehari-hari atau bekal makan siang. Ebi furai biasanya disantap dengan tartar sauce atau perasan lemon. Hidangan ini dapat ditemukan di berbagai tempat, mulai dari restoran Yoshoku hingga restoran masakan Jepang.
Tenshinhan
Tenshinhan adalah salah satu hidangan Tiongkok favorit di Jepang, tetapi sebenarnya merupakan makanan asli Jepang. Ada dua teori mengenai asal-usulnya, yaitu bahwa Tenshinhan pertama kali dibuat di restoran "Rairaiken" di Tokyo atau "Taishoken" di Osaka. Hidangan ini merupakan adaptasi dari "Fu Yung Hai", yaitu makanan khas Kanton yang terdiri dari daging kepiting dan telur yang dimasak setengah matang, lalu disajikan dengan nasi dan diberi saus asam manis.
Keunikan tenshinhan terletak pada telur lembut yang dicampur dengan sayuran dan kepiting serta sausnya yang bercita rasa asam manis. Hidangan ini sangat cocok disantap dengan nasi dan mudah membuat siapa pun ketagihan. Tenshinhan memiliki dua gaya, yaitu: gaya Kanto, yang menggunakan saus berbahan dasar saus tomat, yang memiliki rasa lebih manis. Gaya Kansai, yang menggunakan saus berbahan dasar shoyu (kecap asin), dengan rasa lebih ringan. Selain di restoran Tiongkok, tenshinhan juga dapat ditemukan di restoran yang menyediakan set menu dan kedai ramen sebagai menu pendamping.
Ebi Chili
Ebi chili adalah hidangan udang yang dimasak dengan saus pedas manis, sekilas terlihat seperti masakan khas Tiongkok. Namun, hidangan ini sebenarnya diciptakan di Jepang. Asal-usul ebi chili diyakini berasal dari masakan Sichuan "Gan Shao Xia Ren" (udang tumis pedas), yang menggunakan udang yang dimasak dengan saus pedas khas Sichuan.
Namun, Chen Kenmin, seorang chef ahli masakan Sichuan di Jepang, mengadaptasi resep ini agar sesuai dengan selera Jepang dengan menambahkan bahan seperti saus tomat dan telur, serta mengurangi penggunaan rempah-rempah, sehingga ebi chili menjadi hidangan populer saat ini.
Rasa pedas manis yang khas serta tekstur udang yang empuk menjadi daya tarik utama ebi chili. Saat ini, hidangan ini menjadi menu wajib di restoran Tiongkok di Jepang dan juga sering dibuat di rumah.
Hiyashi Chuka
Hiyashi chuka adalah hidangan mi dingin khas Jepang yang populer sebagai menu musim panas. Saat melihat menu "Hiyashi Chuka" di depan restoran, banyak orang merasa bahwa musim panas yang panas yang terik telah tiba. Hidangan ini dibuat dengan merebus mi Tiongkok, lalu mendinginkannya dengan air dingin, dan menyajikannya dengan berbagai topping seperti ham, chashu, telur dadar yang diiris tipis, mentimun, dan tomat, kemudian diberi saus berbahan baku shoyu yang manis dan asam. Topping yang berwarna-warni pasti akan membangkitkan selera makan Anda, bahkan ketika Anda merasa lelah di musim panas.
Asal-usul hiyashi chuka diyakini berasal dari hidangan mi dingin Tiongkok yang disebut "Liangbanmian". Namun, versi Jepang pertama kali dibuat oleh restoran Tiongkok "Ryutei" di Sendai, Prefektur Miyagi sekitar tahun 1937. Hiyashi chuka kemudian menyebar ke seluruh Jepang karena sesuai dengan iklim dan budaya makanan Jepang. Selain menjadi menu makan siang di musim panas yang populer di rumah, hiyashi chuka juga mudah ditemukan di bagian makanan siap saji di supermarket dan sering dijual di toko serba ada selama musim panas. Tentu saja, restoran Tiongkok juga menyajikannya, tetapi banyak tempat hanya menawarkan menu ini secara musiman selama musim panas.
Makanan yang Sebenarnya Bukan Berasal dari Jepang
Beberapa hidangan yang dikenal sebagai bagian dari masakan Jepang ternyata berasal dari luar negeri.
Ramen
Asal: Tiongkok
Ramen adalah makanan nasional yang dicintai oleh berbagai generasi di Jepang, tetapi asal usul ramen modern bermula pada tahun 1859, ketika hidangan mie Cina, yang merupakan akar dari ramen, diperkenalkan ke Jepang setelah Jepang membuka pelabuhannya. Salah satu alasan mengapa ramen diterima dengan baik adalah karena orang Jepang selalu menyukai mi, dan lebih memilih makan mi udon dan soba.
Salah satu daya tarik ramen adalah variasi rasa kuahnya yang beragam, sehingga tidak membosankan. Banyak orang sering berdiskusi tentang rasa ramen favorit mereka dalam percakapan sehari-hari. Media juga sering menampilkan restoran ramen terkenal, dan antrean panjang di depan restoran ramen menjadi pemandangan biasa yang menjadi topik pembicaraan hangat.
Di berbagai daerah di Jepang, lahir berbagai variasi ramen khas lokal. Dengan hadirnya mi instan, ramen semakin mengakar sebagai makanan nasional. Bahkan, ada restoran ramen di Jepang yang mendapatkan bintang Michelin Guide, menjadikan ramen Jepang terkenal di seluruh dunia.
Gyoza
Asal: Tiongkok
Di Jepang, gyoza menjadi salah satu makanan nasional yang sepopuler ramen. Banyak restoran khusus gyoza dan jaringan restoran yang mengkhususkan diri dalam hidangan ini. Meskipun berasal dari Tiongkok, gyoza diperkenalkan ke Jepang pada era Meiji.
Di Tiongkok, gyoza biasanya dikonsumsi dalam bentuk pangsit rebus (shuijiao), tetapi di Jepang, istilah "gyoza" umumnya mengacu pada versi pangsit goreng (yaki gyoza). Ciri khas gyoza Jepang adalah kulitnya yang lebih tipis, sehingga menghasilkan tekstur renyah saat digoreng. Gyoza sering dimakan bersama nasi sebagai lauk. Isian gyoza bisa disesuaikan dengan selera, mulai dari sayuran, bawang, daging, hingga makanan laut. Hal ini membuatnya menjadi hidangan bergizi dan mengenyangkan.
Di Jepang, beberapa daerah terkenal sebagai "kota gyoza". Kota Utsunomiya di Prefektur Tochigi dan kota Hamamatsu di Prefektur Shizuoka adalah dua kota yang terkenal dengan gyoza mereka. Kedua tempat ini tidak hanya menarik bagi pecinta gyoza di Jepang, tetapi juga banyak dikunjungi wisatawan dari luar negeri.
Kare Raisu (Nasi Kari)
Asal: India
Kare raisu adalah salah satu hidangan rumahan paling populer di Jepang dan juga menjadi menu wajib dalam makan siang sekolah. Kari Jepang awalnya berasal dari India, yang kemudian diperkenalkan ke Inggris sebelum akhirnya dibawa ke Jepang pada awal era Meiji dalam bentuk bubuk kari. Setelah itu, Jepang mulai memproduksi dan menjual bubuk kari lokal, serta menciptakan berbagai hidangan berbahan baku kari seperti curry udon dan curry nanban dengan cita rasa khas Jepang yang menggunakan kaldu dashi.
Pada tahun 1950-an, kare mulai menjadi menu rumah tangga yang mudah dibuat berkat munculnya curry roux (bumbu kari) dalam bentuk padat. Kemudian, dengan hadirnya kari instan yang dapat dipanaskan dalam air mendidih, popularitasnya semakin meningkat. Banyak rumah tangga juga menyimpan kare instan sebagai makanan darurat dalam situasi bencana. Setiap keluarga memiliki variasi bahan isian dan bumbu rahasia mereka sendiri, sehingga bisa dibilang ada sebanyak jenis kare sebanyak jumlah rumah tangga di Jepang. Selain itu, kare instan Jepang juga populer sebagai oleh-oleh bagi wisatawan asing.
Tempura
Asal: Portugal
Tempura adalah salah satu makanan Jepang yang dikenal di seluruh dunia, bahkan kata "Tempura" telah menjadi istilah global seperti "Sukiyaki". Meski sangat erat dengan kuliner Jepang, tempura sebenarnya diperkenalkan oleh orang Portugis pada zaman Muromachi, dan namanya diyakini berasal dari kata Portugis "temporas."
Pada masa itu, minyak adalah barang yang sangat berharga di Jepang, sehingga makanan yang digoreng dalam minyak dalam jumlah banyak seperti tempura dianggap sebagai barang mewah dan jarang dikonsumsi masyarakat umum. Namun, pada awal periode Edo, produksi minyak meningkat, sehingga tempura mulai dinikmati oleh masyarakat luas.
Pada mulanya, tempura dijual di kedai makanan kaki lima, di mana tempura ditusuk dengan bambu agar lebih mudah dimakan tanpa mengotori tangan, layaknya camilan. Seiring waktu, tempura berkembang tidak hanya sebagai makanan rakyat tetapi juga sebagai hidangan mewah yang disajikan di restoran kelas atas dan restoran spesialis tempura. Saat ini, tempura tidak hanya dimasak di rumah tetapi juga menjadi hidangan penting dalam perayaan seperti Tahun Baru dan acara perayaan lainnya.
Sushi
Asal: Asia Tenggara
Sushi adalah salah satu makanan Jepang yang paling terkenal di dunia. Karena Jepang dikelilingi oleh lautan, sejak zaman dahulu orang Jepang sudah terbiasa makan ikan mentah segar. Oleh karena itu, banyak orang menganggap sushi berasal dari Jepang. Namun, bentuk awal sushi sebenarnya adalah "narezushi", yang diperkenalkan dari Asia Tenggara ke Jepang pada zaman Nara. Narezushi berbeda dari sushi modern. Hidangan ini dibuat dengan cara merendam ikan asin dalam nasi, kemudian difermentasi hingga butiran beras menjadi lembek. Pada saat itu, metode ini dianggap sebagai cara untuk mengawetkan ikan dalam jangka waktu lama.
Nigirizushi lahir pada akhir periode Edo. Seperti tempura, sushi pada saat itu dijual di kedai kaki lima dan menggunakan ikan segar yang diletakkan di atas nasi yang dibumbui cuka. Sushi tipe ini disebut "Edomae sushi (Sushi ala Edo)" karena menggunakan makanan laut yang ditangkap di Teluk Tokyo (Edo sebutan untuk Tokyo pada masa itu). Ukuran sushi pada waktu itu jauh lebih besar dari sushi modern dan biasanya dipotong sebelum dimakan.
Sushi mulai berkembang menjadi bentuknya yang sekarang pada era Meiji, lalu pada periode Taisho, penyimpanan dengan lemari pendingin memungkinkan variasi topping sushi bertambah serta ukurannya menjadi lebih kecil. Seiring waktu, sushi berevolusi menjadi makanan khas Jepang yang dicintai di seluruh dunia. Kini, terdapat berbagai cara menikmati sushi, mulai dari restoran mewah di mana koki langsung membuat sushi di depan pelanggan, hingga restoran kaitenzushi (sushi berputar) yang memungkinkan pelanggan memilih sushi favorit mereka dari ban berjalan.
Makanan-makanan ini, meskipun berasal dari luar Jepang, telah berkembang sesuai dengan selera orang Jepang dan menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya kuliner Jepang. Cobalah dan bandingkan dengan hidangan dari negara Anda sendiri.
Sumber isi
Informasi ini bersumber dari Fun Japan Communications Co., Ltd.
Tanpa pemberitahuan sebelumnya, ada kemungkinan ditutupnya fasilitas komersial, perubahan jam operasional, penghentian layanan minuman keras untuk sementara, dll.
Untuk detailnya, silahkan cek situs web resmi atau tanyakan secara langsung kepada fasilitas terkait.

